Sudah berulangkali terdengar keluhan, bahwa kesadaran masyarakat terhadap peninggalan-peninggalan sejarah sedemikian rendah. Banyak peninggalan sejarah dirusak dan dicoret-coret, bahkan pernah ada kabar bahwa batu bata bermutu tinggi bekas candi malah digunakan untuk pengerasan jalan. Masyarakat dikecam karena perilaku vandalismenya. Padahal berbagai larangan berupa papan peringatan, seruan petugas atau ceramah para guru, sudah sering dilakukan agar menghormati berbagai peninggalan sejarah yang sangat tinggi nilainya bagi sejarah bangsa itu sendiri.
Peninggalan sejarah itu perlu dilestarikan, dijaga keberadaannya, dihormati sedemikian rupa agar tidak menghilangkan jejak sejarah.
Menurut Brigjen TNI (purn) H Andi Oddang, Ketua LVRI Sulsel seperti di kutip dalam harian Fajar edisi 11 Desember 2008, beliau juga mengeluhkan lemahnya perhatian pemerintah akan kepedulian terhadap peninggalan sejarah perjuangan. Menurut beliau, “ sejarah tak boleh tertutupi dunia kerja modern. Sejarah adalah bagian dari kita. Untuk itu semua harus menghargai. Anak-anak muda sekarang harus berjalan, mempelajari sejarah. Tidak boleh tinggal diam ”.
Pada tanggal 16 April 1946 Jenderal Sudirman atas nama Markas Besar Tentara, membentuk Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS). Dalam surat keputusan itu diberikan mandat kepada Kahar, Andi Mattalatta dan Saleh Lahade untuk melakukan persiapan dalam pembentukan kader dan pasukan lengkap dengan peralatan tentara yang akan diberangkatkan secara bergelombang ke Sulawesi. Juga membentuk TRI di Sulawesi Selatan dengan kekuatan dan organisasi satu divisi, sampai kesatuan terkecil untuk menegakkan dan membela Republik Indonesia. Setelah mandat dilaksanakan, hasilnya disampaikan kepada Panglima Jenderal Sudirman.
Pembentukan Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) dilakukan karena di Sulsel, laporan yang masuk ke markas Besar Tentara, pasukan Belanda semakin membabi buta melakukan penembakan, pembunuhan dan menangkap para pemuda yang melakukan perlawanan. Bahkan terlihat pasukan Belanda kembali menguasai wilayah Sulsel sampai pedalaman. Perlawanan para pemuda yang gigih tidak sebanding dengan persenjataan yang dimiliki Belanda. Apalagi para pemuda dalam berjuang belum punya pengalaman perang dan miskin strategi.
ot Speciale Troepen pimpinan Westerling. Peristiwa ini terjadi pada Desember 1946-Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan). Di tengah-tengah mengganasnya Westerling, pada akhir tahun 1946 dan awal 1947, berturut-turut mendarat rombongan ekspedisi Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) di daerah operasi harimau Indonesia, dari Jawa. Kedatangan ekspedisi, bukan hanya memperkuat dan mengkoordinasikan laskar-laskar perjuangan yang ada di Sulawesi Selatan, tetapi juga untuk membentuk dan membina satuan-satuan yang ada menjadi Divisi Tentara Republik Indonesia ( TRI ).
TRIPS gelombang pertama, masing-masing rombongan dipimpin oleh Kapten Muhammadong, Kapten Moh. Yusuf, Lettu A. Latif, Lettu M. Said dan Pelda Murtala. Rombongan berikutnya dipimpin oleh Kapten Andi Sarifin dan Lettu Andi Sapada. Dua hari kemudian, tiba lagi rombongan Kapten Andi Mattalatta. Disusul kemudian oleh pendaratan rombongan Kapten Saleh Lahade dan Lettu Andi Oddang.
Untuk mengenang keberanian dan pengorbanan mereka, maka dibangunlah prasasti di desa Parengki dan di desa Tasiwalie, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, yang diresmikan pada tanggal 10 November 1978. Monumen tersebut berbentuk prasasti dengan tinggi satu meter lebih (+1m), dimana pada bagian atas terdapat tulisan yang berbunyi ” EKSPEDISI TRI PERSIAPAN SULAWESI ” dengan tekad :” MERDEKA ATAU MATI ”. Yang kemudian keluarlah semboyang ” ESA HILANG DUA TERBILANG ”. Sehubungan dengan hal tersebut, kita sebagai generasi muda merasa sangat prihatin dengan kondisi prasasti sekarang. Yang seakan-akan sudah mulai dilupakan orang. Padahal prasasti yang ada di tempat tersebut, sebagai tanda cikal bakal kedatangan ekspedisi dari TRI Persiapan Sulawesi yang sekarang sudah melebur menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia).
Pemugaran prasasti ini adalan suatu momen yang sangat tepat bila dikaitkan juga dengan rencana pembangunan Markas Komando Pasukan Marinir (Makopasmar) TNI Angkatan Laut (AL) di Kawasan Indonesia Timur. Sebanyak 11 ribu personel pasukan Marinir akan ditempatkan di Kec. Suppa, Kabupaten Pinrang. Pihak Pemda TK. II Pinrang sendiri telah menyiapkan lahan seluas 200 hektar di Desa Ujung Labuang (Jarak dari prasasti hanya + 3 Km )untuk lokasi Markas Brigif Pasmar II yang akan dibangun TNI AL. Akan sangat ironis jika 200 hektar lahan, berikut bangunan yang akan berdiri diatasnya sangat diperhatikan proses pembangunannya, sementara tidak jauh dari situ terdapat prasasti ekspedisi Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) Yang sudah hampir terlupakan oleh sejarah, karena kurangnya perhatian dari pihak-pihak yang terkait.
Para pendahulu telah mewariskan kemerdekaan untuk kita semua, dengan mengorbankan harta benda bahkan jiwa dan raga mereka. Maka sudah selayaknya, jika kita tidak hanya menatap ke depan. Terbawa arus suasana modernitas dan globalisasi hingga melupakan untuk sejenak menengok kebelakang, bahwa apa yang sudah kita rasakan sekarang adalah berkat mereka yang dengan gagah berani mempertahankan kemerdekaan , ” MERDEKA ATAU MATI ”.