Sebenarnya saya tidak terlalu ambisius untuk menjadi seorang ketua RT, karena saya hanya seorang business man (sudah 5 tahun saya menekuni profesi sebagai pedagang buah di pasar induk). Tidak mempunyai bakat apalagi tampang seorang pemimpin meskipun hanya untuk ukuran ketua RT. Kalau menjadi pemimpin bukankah kita harus adil, jujur dan bijaksana ?. Sementara tiga kata yang saya sebutkan barusan, baru kata awal dan akhirnya yang sanggup saya jalankan. Boleh dikatakan saya termasuk orang adil bahkan lebih adil dari kantor pengadilan, Begitupun dengan kebijaksanaan. Kurang bijaksana apa Pak Roni . Saking bijaksananya, saya ikhlas untuk bergabung dalam Ikatan Suami Takut Istri. Untuk kata bagian tengah “JUJUR” belum sanggup saya jalankan, dan mungkin tidak akan sanggup saya jalankan selama masih berprofesi sebagai pedagang buah. Bagaimana dapur kami bisa berasap dengan teratur baik pagi, siang, maupun malam jika kata itu diamalkan dalam profesi saya. Jangan disamakan dong dengan Grup Band Radja yang berkat kata jujur berhasil menjadi band favorit saat ini. Kalau berkata jujur dengan pelanggan yang menanyakan dagangan. MUSTACHIL!!! Ane bisa bangkruuut.
“ maaf bang, buah-buahan ini masih segar ga?”. Tanya pelanggan jika ingin membeli buah, untuk itu saya harus kreatif dalam menjawabnya dengan mengatakan…
“Oh..ya bu… Buah-buahan yang dipajang ini baru datang kemarin (maksudnya minggu kemarin). Kalau buah-buahan lama yang sudah tidak layak jual, saya simpan dikardus-kardus itu”. Kataku sambil menunjuk pada tumpukan kardus yang ada dibelakang. Padahal kardus itu tidak ada isinya dan hanyalah tumpukan kardus kosong.
“atau ibu mau ngeborong buah itu? Tapi saya yakin deh… ibu sukanya yang segar-segar, seperti kulit ibu yang masih kelihatan segar dan awet muda”. Pancingku sambil terus berusaha menyanjung. Agar ibu ini yang tadinya cuma mau beli sekilo, dengan pengalamanku dalam melayani konsumen akan berusaha untuk membeli tiga kilo. Mudah-mudahan kali ini berhasil.
“ah…abang bisa aja. Ini buat nengokin teman lho bang yang lagi dirumah sakit. Kalau gitu saya beli sekilo ya…buah yang ini”. Katanya sambil mengambil dompet yang ada ditasnya.
“oh, buah yang ini ya? Wah kok kebetulan banget ya…Siti Saodah artis sinetron yang lagi naik daun itu, kemarin beli buah yang ini juga lho bu! Tapi sayang… cantik-cantik ko Siti Saodah cuma beli dua kilo ya?”. Celotehku sambil membungkus pesanan ibu tersebut.
“maaf bang hampir lupa, bungkusin tiga kilo ya. Anak saya yang paling bontot tadi nitip agar dibeliin buah juga. Waduh kok jadi pelupa gini ya…”. Mintanya ga mau kalah dengan Siti Saodah. Yess…teriakku dalam hati “kali ini berhasil lagi”, tiga kilooo
Seperti itulah kehidupanku sehari-hari di pasar induk. Kalau berkata jujur dengan pelanggan yang menanyakan dagangan. MUSTACHIL!!! Ane bisa bangkruuut. Kalau sekarang saya menerima tawaran warga untuk mengangkat saya menjadi ketua RT, itu tak lain karena desakan istri tercinta yang katanya sudah bosan dipanggil Bu Ron.
“ya..sekali-kali dong pa, Saya di panggil bu RT. Memangnya kita buronan teroris apa!, keki aku dipanggil buron….buron terus. Lagipula kalau papa jadi ketua Rt , kita kan bisa lebih dihormati orang”. Katanya sambil berusaha meyakinkanku untuk menerima tawaran tersebut.
“tapi papa kan belum siap untuk jadi ketua Rt, mam!”. Jawabku dengan halus.
“siap ga. Siap, papa kan bisa belajar perlahan -lahan. Kamar sebelah udah saya bersihin ko’. Awas lho pa… kalo ga diterima!!!”. Ancam istriku sambil beranjak menuju ke kamar. Kalau permintaannya tidak dituruti, biasanya dia memintaku tidur dikamar sebelah.
“waduh mati aku! Aminah…Aminah. Siapa sih yang mau pisah ranjang denganmu barang sedetikpun. Apapun yang engkau minta akan kupenuhi sayang, asal jangan menyuruhku untuk tidur di kamar sebelah. Apapun akan kulakukan, bisa apa aku jika harus tidur tanpa engkau disampingku. Besok akan kupenuhi permintaanmu itu, HIDUP AMINAH!!!”. Jeritku dalam hati.
*****************************************************************************
Tidak terasa sudah dua bulan ini, aku menjabat sebagai ketua RT. Baru kurasakan sekarang, ternyata benar apa kata istriku bahwa kita bisa belajar secara perlahan-lahan. Menjalankan tugas sebagai ketua RT tidaklah sesulit yang saya bayangkan. Saya hanya perlu menampung segala keluhan warga dan berusaha memenuhinya dengan sebaik-baiknya. Mulai dari masalah sampah, pendataan warga, keamanan dan masalah lain. Kegiatan saya tidaklah terlalu terganggu dengan jabatan ini, justru ada hikmah besar yang bisa saya petik. Naluri bisnis saya semakin terasah sejak menjabat
Selamat Datang di Blog Majuko Pinrang
Mariki.........
Senin, 27 April 2009
Ketua RT
Label: Wajah Negeriku
Diposting oleh Nahrun, M.SE di 08.51